Oleh: Aditya Jessika Susanti Said, S.Pd., Gr.
Tangerang, Jumat 27 Maret 2026 Hari Guru Nasional selalu menjadi momen yang sarat makna bagi dunia pendidikan di Indonesia. Di tengah berbagai perayaan dan ucapan terima kasih yang mengalir, seorang guru bernama Ibu Susan memilih cara yang berbeda untuk merayakannya melalui tulisan. Ia menuangkan pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapannya dalam sebuah buku esai yang menggugah.
Buku tersebut lahir dari perjalanan panjangnya sebagai pendidik. Dalam setiap lembarannya, Ibu Susan tidak hanya menuliskan kisah-kisah inspiratif, tetapi juga keluh kesah yang selama ini sering terpendam. Ia bercerita tentang tantangan yang dihadapi guru di era modern, mulai dari tuntutan administratif yang tinggi hingga perubahan karakter peserta didik yang semakin kompleks.
Namun di balik semua itu, Ibu Susan tetap menegaskan satu hal penting: guru adalah pilar utama pendidikan. Tanpa peran guru yang kuat, proses pembentukan generasi masa depan tidak akan berjalan dengan optimal. Melalui esainya, ia ingin mengingatkan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa yang membutuhkan dedikasi, kesabaran, dan ketulusan.

Momentum Hari Guru Nasional, menurutnya, seharusnya tidak dimaknai secara dangkal. Ia menyoroti bagaimana peringatan ini sering kali hanya berhenti pada seremoni, seperti upacara dan pemberian ucapan terima kasih di media sosial. Padahal, ada makna yang jauh lebih dalam yang perlu direnungkan bersama.
Dalam salah satu bagian bukunya, Ibu Susan menuliskan kutipan yang menjadi inti dari pesannya:
“Peringatan hari guru seharusnya tidak berhenti pada seremonial dan ucapan terima kasih belaka, melainkan menjadi momentum refleksi.”
Kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa Hari Guru adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi kondisi pendidikan secara menyeluruh. Bukan hanya bagi guru, tetapi juga bagi pemerintah, orang tua, dan masyarakat luas. Refleksi ini penting untuk melihat sejauh mana dukungan yang telah diberikan kepada guru, serta apa saja yang masih perlu diperbaiki.
Melalui bukunya, Ibu Susan berharap masyarakat dapat lebih menghargai peran guru, tidak hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata. Ia juga ingin para guru lain merasa bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan.
Pada akhirnya, karya Ibu Susan bukan sekadar kumpulan esai, melainkan suara hati seorang pendidik yang tulus. Di momen Hari Guru Nasional, tulisannya menjadi pengingat bahwa perubahan besar dalam pendidikan dimulai dari kesadaran kecil untuk peduli dan menghargai guru sebagai pilar bangsa.