Presiden Prabowo Subianto belum lama ini mendorong perombakan besar-besaran terhadap buku pelajaran SD hingga SMA, setelah menemukan langsung dalam kunjungannya ke sekolah bahwa banyak buku ajar mudah rusak dan hurufnya terlalu kecil untuk dibaca siswa. Buku ajar Indonesia pun turut dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, dan Timor-Leste, dengan target rampung akhir 2026.
Kebijakan ini terdengar seperti langkah maju yang patut diapresiasi. Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, isu buku pelajaran ini sebenarnya cuma puncak gunung es dari PR pendidikan Indonesia yang jauh lebih besar. Momen ini terasa relevan untuk direnungkan, mengingat kita sedang berada di bulan Agustus, bulan peringatan 81 tahun kemerdekaan Indonesia dengan tema resmi “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Delapan puluh satu tahun bukan waktu yang singkat, tapi ternyata PR di bidang pendidikan masih cukup panjang.
Yang Paling Mendesak: Keselamatan Anak di Sekolah
PR paling urgen ada pada aspek keselamatan anak. Kasus kekerasan di satuan pendidikan tercatat melonjak 604 persen dalam lima tahun terakhir, dari 91 kasus pada 2020 menjadi 614 kasus pada 2025, dengan sekolah formal jenjang SD-SMA menyumbang porsi terbesar (57 persen) dan siswa sebagai korban mayoritas.
Selain kekerasan, kondisi fisik sekolah juga jadi ancaman harian. Lebih dari 60 persen ruang kelas SD tercatat dalam kondisi rusak pada tahun ajaran 2024/2025, dengan 10 persen di antaranya rusak berat. Ini bukan sekadar soal kenyamanan belajar, melainkan soal keselamatan anak yang setiap hari duduk di ruang kelas tersebut.
Kualitas Belajar yang Masih Tertinggal
Dari sisi kualitas pembelajaran, Presiden Prabowo sendiri mengakui skor PISA Indonesia masih berada di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Salah satu akar persoalannya ada pada kompetensi guru: sebuah studi menemukan hanya 12 persen guru SD yang merasa benar-benar menguasai materi literasi membaca, dan 21 persen untuk matematika.
Pemerataan Akses yang Belum Merata
Kesenjangan infrastruktur dan mutu pendidikan antara kota besar dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) juga masih lebar. Di sisi lain, kesejahteraan guru honorer kerap jadi korban pertama setiap kali ada kebijakan efisiensi anggaran, padahal peran mereka sama pentingnya dalam menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar.
Isu Buku Ajar dan Persoalan Anggaran
Kembali ke isu buku pelajaran yang jadi sorotan awal, persoalan bahan yang mudah rusak dan huruf yang terlalu kecil memang sedang dalam proses perbaikan. Namun perbaikan ini muncul tidak lama setelah sektor pendidikan sempat terkena kebijakan efisiensi anggaran negara di awal 2025, yang antara lain membuat ratusan ribu mahasiswa penerima KIP Kuliah sempat tertunda pencairan dananya, serta memunculkan kekhawatiran atas potensi tidak terpenuhinya mandat konstitusi berupa alokasi minimal 20 persen APBN untuk pendidikan. Pemerintah saat itu menegaskan program esensial seperti BOS, PIP, dan tunjangan sertifikasi guru tidak terdampak, meski sejumlah pihak termasuk JPPI dan Komisi X DPR RI tetap menyuarakan kekhawatiran jangka panjangnya.
Satu PR lain yang sifatnya lebih kronis adalah kurikulum yang kerap berubah setiap kali terjadi pergantian menteri, sampai memunculkan sindiran yang sudah akrab di telinga: ganti menteri, ganti kurikulum.
Titik Terang di Tengah PR yang Panjang
Terlepas dari panjangnya daftar PR ini, ada juga langkah maju yang patut diapresiasi: rencana rombak total buku ajar, evaluasi menyeluruh dari SD hingga SMA, hingga upaya membandingkan kualitas pendidikan kita dengan negara tetangga sebagai bahan perbaikan.
Delapan puluh satu tahun kemerdekaan adalah momentum yang baik untuk merayakan, sekaligus jujur mengakui bahwa perjalanan menuju pendidikan yang aman, merata, dan berkualitas masih terus berlangsung. Sambil menunggu kebijakan-kebijakan besar ini membuahkan hasil, selalu ada ruang bagi berbagai pihak untuk ikut bergerak dari sisi lain. Di ACF Eduhub, semangat ini coba diterjemahkan lewat program-program yang berjalan setiap hari: Sekolah Juara yang membangun pendidikan berkarakter sejak dini, Guruverse.id yang mendukung guru untuk terus berkembang, serta Sekolah Daya Setara yang membuka akses belajar bagi anak-anak yang selama ini kesulitan menjangkau pendidikan formal.
Merdeka bukan hanya soal bebas dari penjajahan, tapi juga soal memastikan setiap anak Indonesia punya kesempatan yang sama untuk belajar dan bertumbuh, dengan aman. Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Sumber
- Tirto.id, “Daftar Program Pendidikan yang Terdampak Efisiensi Anggaran 2025” — https://tirto.id/daftar-program-pendidikan-yang-terdampak-efisiensi-anggaran-2025-g8W8
- Kompas.com, “Anggaran Pendidikan Kena Imbas Efisiensi, Apa Saja Rinciannya?” — https://www.kompas.com/tren/read/2025/02/13/170000765/anggaran-pendidikan-kena-imbas-efisiensi-apa-saja-rinciannya-
- GoodStats, “Bagaimana Nasib Pagu Anggaran Kementerian Pendidikan di Tengah Diet APBN?” — https://goodstats.id/article/bagaimana-nasib-pagu-anggaran-kementerian-pendidikan-di-tengah-diet-apbn-2xLUP
- NU Online, “Pemangkasan Anggaran Pendidikan Berdampak pada Pembangunan Infrastruktur dan Masa Depan Anak Bangsa” — https://nu.or.id/nasional/pemangkasan-anggaran-pendidikan-berdampak-pada-pembangunan-infrastruktur-dan-masa-depan-anak-bangsa-UW9Wh
- detikX, “Masa Depan Pendidikan Usai Pemangkasan Anggaran” — https://news.detik.com/x/detail/spotlight/20250210/Masa-Depan-Pendidikan-Usai-Pemangkasan-Anggaran/
- RRI.co.id, “Presiden Prabowo Ingin Perbaharui Buku Pelajaran Siswa” — https://rri.co.id/nasional/2635368/presiden-prabowo-ingin-perbaharui-buku-pelajaran-siswa
- Presidenri.go.id, “Dari Buku Ajar hingga Budaya Membaca, Presiden Prabowo Perkuat Fondasi SDM Indonesia” — https://presidenri.go.id/berita-lainnya/dari-buku-ajar-hingga-budaya-membaca-presiden-prabowo-perkuat-fondasi-sdm-indonesia/
- Tribunpekanbaru.com, “Gebrakan Prabowo Ingin Ubah Buku Pelajaran SD-SMA, JPPI Sebut Jangan Sampai Jadi Proyek Baru” — https://pekanbaru.tribunnews.com/riau-region/1111590/gebrakan-prabowo-ingin-ubah-buku-pelajaran-sd-sma-jppi-sebut-jangan-sampai-jadi-proyek-baru
- Kompas.com, “Prabowo Akui Skor PISA RI Rendah: Kualitas Pendidikan Kita di Bawah Thailand, Malaysia, Vietnam” — https://nasional.kompas.com/read/2026/08/06/20004431/prabowo-akui-skor-pisa-ri-rendah-kualitas-pendidikan-kita-di-bawah-thailand
- infopendidikan.bic.id, “Evaluasi Kritis 81 Tahun Pendidikan Indonesia (1945–2026)” — https://infopendidikan.bic.id/evaluasi-kritis-81-tahun-pendidikan-indonesia/
- SMERU Research Institute, “Skor siswa Indonesia dalam penilaian global PISA melorot, kualitas guru dan disparitas mutu penyebab utama” — https://rise.smeru.or.id/id/blog/skor-siswa-indonesia-dalam-penilaian-global-pisa-melorot-kualitas-guru-dan-disparitas-mutu
- Universitas Bimus, “Potret Kualitas Pendidikan di Indonesia: Tantangan & Harapan” — https://bimus.ac.id/berita/potret-kualitas-pendidikan-di-indonesia-tantangan-harapan/
- New Indonesia, “Analisis Laporan JPPI 2025” — https://www.new-indonesia.org/2026/01/7188/analisis-laporan-jppi-2025/