Belum lama ini, publik dikejutkan oleh sebuah video yang menunjukkan seorang anak menangis histeris di samping jenazah ayahnya. Sang ayah diduga mencuri seekor ayam, lalu menjadi korban main hakim sendiri oleh massa. Video itu menyebar luas, memicu simpati sekaligus perdebatan. Namun di balik viralnya momen tersebut, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas secara serius: apa yang sebenarnya sedang dialami anak itu, dan siapa yang seharusnya hadir untuknya setelah kamera berhenti merekam dan tagar berhenti tren.

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan anak, ACF Eduhub melihat kejadian ini bukan sekadar berita yang lewat, tapi pengingat penting tentang dua hal: bagaimana kita mendampingi anak yang mengalami kehilangan traumatis, dan bagaimana mencegah tragedi yang menciptakan kehilangan seperti ini.

Kehilangan yang Berbeda dari Kedukaan Biasa

Kehilangan orang tua adalah salah satu pengalaman paling berat yang bisa dialami seorang anak, dan cara kehilangan itu terjadi sangat menentukan bagaimana dampaknya akan dibawa. Ketika seorang anak kehilangan orang tuanya secara mendadak dan penuh kekerasan, ia tidak hanya berduka — ia juga berpotensi mengalami trauma yang memengaruhi rasa aman terhadap dunia di sekitarnya.

Anak-anak, terutama di usia sekolah dasar, sering belum memiliki kosakata emosi yang cukup untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan. Trauma pada usia ini biasanya tidak muncul lewat kata-kata, melainkan lewat perubahan perilaku: sulit tidur, mudah takut, menarik diri dari teman-temannya, atau justru terlihat tenang secara mengkhawatirkan karena sedang menahan banyak hal sendirian.

Dukungan yang Dibutuhkan Setelah Sorotan Media Meredup

Ironisnya, momen paling rentan bagi anak seperti ini sering terjadi setelah perhatian publik mereda. Saat video berhenti dibagikan dan tagar tidak lagi tren, anak tersebut tetap harus menjalani hari-harinya tanpa satu orang tuanya. Dukungan yang dibutuhkan bukan simpati sesaat, melainkan pendampingan psikologis yang konsisten dan berjangka panjang.

Sekolah dan lingkungan terdekat anak memainkan peran besar di sini. Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain: memastikan anak tidak terus-menerus terpapar ulang video atau komentar tentang kejadian yang menimpanya, menjaga rutinitas hariannya tetap stabil sebisa mungkin, serta menyediakan ruang aman untuk bicara ketika ia siap — tanpa memaksanya untuk “membuka diri” lebih cepat dari kesiapannya.

Akar Masalah yang Juga Perlu Direnungkan

Di luar aspek psikologis anak, kejadian ini juga menyingkap persoalan lain yang tak kalah penting: main hakim sendiri yang berujung pada hilangnya nyawa. Ketika kemarahan kolektif diselesaikan dengan kekerasan alih-alih jalur hukum, yang menanggung akibat paling panjang justru bukan pelaku, melainkan keluarga yang ditinggalkan — dalam kasus ini, seorang anak yang harus tumbuh tanpa ayahnya.

Mencegah tragedi serupa terulang tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum semata. Dibutuhkan juga upaya jangka panjang menanamkan empati dan kesadaran untuk menyelesaikan masalah secara adil sejak usia dini — sesuatu yang menjadi bagian dari pendidikan karakter anak.

Peran Pendidikan dalam Memutus Rantai Ini

ACF Eduhub percaya bahwa pendidikan karakter bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan fondasi untuk mencegah kekerasan sosial di masa depan. Anak-anak yang dibiasakan berempati, memahami konsekuensi tindakan, dan percaya pada jalur hukum yang adil akan tumbuh menjadi bagian dari masyarakat yang lebih mampu menahan diri dari amarah kolektif yang merusak.

Melindungi anak tidak berhenti pada memastikan mereka aman secara fisik. Melindungi anak juga berarti menjaga agar orang tua mereka tetap ada untuk mendampingi mereka tumbuh — dan itu adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab satu pihak.

Kalau Anda atau anak di sekitar Anda membutuhkan pendampingan setelah mengalami kehilangan yang traumatis, jangan ragu untuk mencari bantuan dari psikolog anak atau konselor terdekat.

Share this post